Sejarah Pelaksanaan Ibadah Haji dari Masa ke Masa

sejarah pelaksanaan ibadah haji

Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu, sekali seumur hidup. 

Namun tahukah Anda bahwa akar sejarah ibadah haji jauh lebih tua dari Islam itu sendiri? Ia berakar pada perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS, ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Memahami sejarah haji bukan hanya memperkaya pengetahuan ia membuat setiap gerakan ibadah haji menjadi lebih bermakna. 

Setiap langkah sa’i, setiap batu yang dilempar di Jumroh, dan setiap tawaf mengelilingi Kabah memiliki akar sejarah yang dalam dan penuh dengan pelajaran keimanan.

Fase 1: Zaman Nabi Ibrahim AS

Kisah ibadah haji dimulai ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS sekitar 4.000 tahun lalu untuk membangun Baitullah (Kabah) bersama putranya Ismail AS di lembah yang tandus yang kelak menjadi kota Makkah. 

Perintah ini diabadikan dalam Al-Quran:

📖 Dalil Al-Quran: “Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang beribadah, yang rukuk, dan yang sujud.” (QS. Al-Hajj: 26)

Setelah Kabah selesai dibangun, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyerukan ibadah haji kepada seluruh manusia:

📖 Dalil Al-Quran: “Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)

Seruan Ibrahim AS itulah yang menjadi asal mula ibadah haji. Para ulama menyebutkan bahwa ruh-ruh manusia yang belum lahir pun merespons seruan tersebut dengan labbaik yang kemudian menjadi bacaan talbiyah dalam ibadah haji.

Fase 2: Ritual Haji yang Bermakna dari Kisah Ibrahim

Banyak ritual haji yang kita laksanakan hari ini berasal langsung dari pengalaman Nabi Ibrahim dan keluarganya:

Ritual HajiAsal Usul Historis
Sa’i (lari-lari kecil antara Shafa dan Marwa)Hajar berlari 7 kari antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air untuk bayi Ismail yang kehausan
Air ZamzamMata air yang dipancarkan Allah di bawah kaki bayi Ismail
Lempar JumrohIbrahim melempari setan yang menggodanya 3 kali saat menuju penyembelihan Ismail
Penyembelihan hewan kurbanPeringatan tebusan Allah atas Ismail dengan seekor domba besar
Talbiyah (Labbaik Allahumma labbaik)Respons manusia terhadap seruan Ibrahim memanggilnya untuk berhaji
Tawaf mengelilingi KabahIbrahim dan Ismail membangun Kabah dan pertama kali mengelilinginya

Fase 3: Zaman Jahiliyah Distorsi Ibadah Haji

Sepeninggal Ibrahim AS dan generasi-generasi setelahnya, ibadah haji mengalami distorsi besar yang dilakukan oleh bangsa Arab jahiliyah. 

Mereka tetap melaksanakan haji namun dengan berbagai penambahan yang sangat jauh dari ajaran aslinya:

  • Kabah yang masih ada berhala di dalam dan di sekitarnya
  • Tawaf dilakukan dalam keadaan telanjang dengan alasan pakaian mereka telah bernoda maksiat
  • Terdapat perbedaan perlakuan. Orang biasan (bukan Quraisy) harus menyewa atau bertawaf secara telanjang sedangkan untuk orang Quraisy mendapat hak istimewa.
  • Wukuf di Arafah ditinggalkan oleh suku Quraisy karena merasa lebih mulia
  • Haji dijadikan ajang pameran kesukuan (festival), syair-syair kebanggaan, dan mabuk-mabukan

Inilah kondisi yang ditemukan Nabi Muhammad SAW ketika beliau mulai menerima wahyu. 

Salah satu misi besar Islam adalah mengembalikan ibadah haji kepada kemurnian aslinya seperti yang diajarkan Ibrahim AS.

Fase 4: Pemurnian Ibadah Haji oleh Nabi Muhammad ﷺ

Pada tahun ke-9 Hijriah, Nabi mengutus Abu Bakar dan Sayyidina Ali untuk memimpin haji pertama umat Islam dan mengumumkan larangan orang musyrik berhaji serta larangan thawaf dengan telanjang.

Kemudian pada tahun ke-10 Hijriah, Nabi ﷺ sendiri melaksanakan haji yang terkenal sebagai Hajjatul Wada’ (Haji Perpisahan) karena ini adalah satu-satunya ibadah haji yang dilaksanakan Nabi Muhammad setelah kewajiban haji diturunkan, dan beliau wafat beberapa bulan setelahnya.

📌 Hadits Penting: Dalam Hajjatul Wada’, Nabi ﷺ bersabda: “Ambillah dariku manasik (tata cara) haji kalian, karena aku tidak tahu apakah aku masih bisa berjumpa dengan kalian setelah tahun ini.” (HR. Muslim no. 1297)

Di Hajjatul Wada’ inilah Nabi Muhammad menyempurnakan seluruh tata cara ibadah haji  mulai dari talbiyah, ihram, tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, lempar Jumroh, hingga penyembelihan hewan. Semua yang diajarkan beliau itulah yang menjadi panduan haji umat Islam hingga hari ini.

Fase 5: Haji di Era Khulafaur Rasyidin dan Dinasti Islam

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, para Khalifah yang Empat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) secara bergantian memimpin ibadah haji. 

Umar bin Khattab dikenal sangat ketat dalam mengatur tata tertib haji dan mulai membangun infrastruktur dasar di sekitar Masjidil Haram.

Pada era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, Masjidil Haram mengalami perluasan pertama yang signifikan. 

Jalan-jalan menuju Makkah mulai diperbaiki, sumber air zam zam di perdalam, dan fasilitas untuk jamaah haji mulai diperhatikan. 

Pada masa Dinasti Utsmaniah berfokus pada menjaga keamanan jamaah haji serta mengalami perkembangan infrastruktur.

Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah (775-785 M) melakukan renovasi besar pertama pada Masjidil Haram.

Fase 6: Era Modern

Perkembangan paling dramatis dalam sejarah haji terjadi di era modern. 

Sebelum adanya transportasi modern, perjalanan haji membutuhkan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. 

Jamaah dari Indonesia misalnya, harus menempuh perjalanan laut selama 2-3 bulan pulang pergi.

Setelah Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Abdul Aziz bin Saud menyatukan Jazirah Arab pada tahun 1932, pengelolaan haji menjadi lebih terorganisir. 

Berikut perkembangan jumlah jamaah haji dari waktu ke waktu:

PeriodeJumlah Jamaah (estimasi)
Era Nabi Muhammad (Hajjatul Wada, 632 M)± 100.000 jamaah
Era Abbasiyah (abad ke-9)± 50.000-100.000 per tahun
Awal abad ke-20 (sebelum pesawat)± 30.000-60.000 per tahun
Tahun 1950 (era pesawat mulai)± 100.000 jamaah
Tahun 1980± 200.000 – 300.000 jamaah
Tahun 2000± 1.800.000 – 2,260.000 jamaah
Tahun 2019 (sebelum pandemi)± 2.500.000 jamaah
Tahun 2023 (pasca pandemi)± 1.800.000 jamaah dengan kuota
Tahun 2024± 1.900.000 jamaah dengan kuota
Tahun 2025± 1.673.000

Sejarah Haji Indonesia

Indonesia adalah negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia. 

Pada masa kolonial Belanda, pemerintah kolonial bahkan pernah membatasi dan mempersulit ibadah haji karena khawatir jamaah haji pulang dengan semangat perlawanan yang membara.

Hari ini, Indonesia mendapat kuota haji sekitar 221.000 jamaah per tahun namun dengan antrian yang mencapai puluhan tahun di beberapa provinsi karena besarnya minat umat Islam Indonesia untuk menunaikan rukun Islam kelima ini.

Kesimpulan

Sejarah ibadah haji adalah sejarah keimanan manusia kepada Allah selama ribuan tahun. 

Dari seruan Ibrahim AS di padang tandus, distorsi jahiliyah, pemurnian oleh Nabi Muhammad ﷺ, hingga jutaan jamaah modern ibadah ini tetap sama esensinya  yaitu pengakuan total atas kebesaran Allah dan ketundukan hamba kepada-Nya.

Ketika Anda melaksanakan haji suatu hari nanti, ingatlah bahwa setiap langkah Anda adalah sambungan dari rantai sejarah yang dimulai oleh kekasih Allah, Ibrahim AS, lebih dari empat ribu tahun yang lalu.

Haji mengajarkan bahwa di hadapan Allah, semua manusia setara tidak ada perbedaan kaya miskin, presiden rakyat biasa, semua berpakaian dua helai kain putih yang sama. Inilah Islam: agama kesetaraan sejati.

🔗 Baca juga: Panduan Lengkap Ibadah Haji  |  Kisah Nabi Ibrahim Membangun Kabah  |  Rukun dan Wajib Haji

Referensi: QS. Al-Hajj: 26-27, HR. Muslim no. 1297, Tarikh Makkah Al-Mukarramah, Sirah Ibnu Hisyam

Leave a Comment