Nabi Yunus AS adalah salah satu nabi yang disebutkan namanya dalam Al-Quran sebanyak empat kali. Beliau juga dikenal dengan nama Dzun Nun yang artinya pemilik ikan karena peristiwa luar biasa yang menimpa dirinya di dalam perut ikan besar.
Nabi Yunus berdakwah di Kota Ninawa, namun karena penduduk disana keras kepala, Nabi Yunus memutuskan untuk meninggalkan Kota Ninawa kemudian ke pelabuhan dan ikut dengan kapal yang akan berlayar.
Untuk cerita lebih lengkapnya baca artikel dibawah ini.
Dakwah Yunus di Niniwa
Allah mengutus Yunus AS kepada penduduk kota Ninawa (sekarang wilayah Mosul, Irak) untuk berdakwah meninggalkan penyembahan berhala dan kembali kepada Allah. Yunus berdakwah dengan sungguh-sungguh, namun penduduk Niniwa menolak seruan beliau dengan keras.
Frustrasi dengan penolakan yang berkepanjangan, Nabi Yunus memutuskan meninggalkan kaumnya sebelum mendapat izin dari Allah. Ini adalah kesalahan besar seorang nabi seharusnya tidak meninggalkan tugas dakwahnya tanpa perintah Allah.
Beliau pergi ke pelabuhan dan menaiki sebuah kapal yang penuh penumpang menuju tempat yang jauh.
“Sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk para rasul. (Ingatlah) ketika dia berlari ke kapal yang penuh muatan” (QS. Ash-Shaffat ayat 139-140)
Melansir dari Qur’an Online NU dijelaskan dari tafsir Wajiz pada ayat 140 Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya padahal Allah tidak memperkenankan kepergiannya, lalu dia naik ke kapal yang penuh dengan muatan hingga hampir tenggelam.
Di Atas Kapal: Undian yang Mengubah Nasib
Di tengah perjalanan laut, badai besar datang mengguncang kapal. Para penumpang ketakutan kapal hampir tenggelam.
Menurut tradisi yang berlaku saat itu, mereka melakukan undian untuk memutuskan siapa yang harus dilempar ke laut agar kapal lebih ringan dan bisa selamat.
Namun sebagian riwayat yang dilansir dari Nu Online, sekelompok orang yang berada di kapal. Karena mengenali sang nabi, mereka pun membawanya.
Namun, setelah beberapa saat berlayar, kapal yang ditumpangi sang nabi mendadak berhenti dan tak bisa melanjutkan perjalanan.
Sementara kapal yang ditumpangi Nabi Yunus ‘alaihissalam hanya terombang-ambing di atas air. Tak berjalan sedikit pun.
Hingga akhirnya Yunus mengikuti undian. Dan hasilnya nama Nabi Yunus yang keluar.
“kemudian dia ikut diundi, maka dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian).” (QS. Ash-Shaffat: 141)
Yunus pun menerima takdir itu dengan pasrah dan melompat atau dilemparkan ke dalam lautan yang bergelombang ganas.
Di Dalam Perut Ikan
Saat Nabi Yunus melompat ke laut, tiba-tiba ikan besar menyambar dan menenlannya. Nabi Yunus berada dalam perut ikan selama berhari-hari.
Bayangkan kondisi Yunus saat itu:
kegelapan di dalam perut ikan, kegelapan di kedalaman laut, dan kegelapan malam. Tiga lapis kegelapan yang total. Tidak ada yang bisa menolongnya kecuali Allah.
“Dia kemudian ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Seandainya dia bukan golongan orang yang banyak bertasbih kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perutnya (ikan) sampai hari Kebangkitan.”(QS. Ash-Shaffat: 142-144)
Dzun Nun yang Menggetarkan Langit
Di dalam kegelapan yang berlapis itu, Yunus AS berseru dengan doa yang menjadi salah satu doa paling terkenal dan paling mustajab dalam Al-Quran.
Doa yang menjadi senjata terbesar setiap muslim ketika menghadapi tekanan dan kesulitan:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin
“Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)
Keutamaan Doa Ini
Rasulullah SAW bersabda: “Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: ‘Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin’ … Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah akan mengabulkan (doa)nya.” (HR. Tirmidzi no. 3505 dan Ahmad).
Penyelamatan Allah
Allah mengabulkan doa Yunus dengan segera. Allah memerintahkan ikan untuk memuntahkan Yunus ke tepi pantai.
Nabi Yunus keluar dalam kondisi lemah dan sakit, lemah dan kulitnya mengelupas
“Kami kemudian melemparkannya (dari mulut ikan) ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kami kemudian menumbuhkan tanaman sejenis labu untuknya.” (QS. Ash-Shaffat: 146-147)
Allah menumbuhkan pohon labu (yaqtin) untuknya sebagai naungan dan makanan.
Tubuhnya yang lemah dan kulitnya yang sensitif setelah berada di perut ikan dilindungi oleh naungan pohon itu.
Kembali ke Ninawa
Setelah pulih, Allah mengutus Yunus kembali kepada kaumnya di Ninawa. Dan disinilah terjadi hal yang mengejutkan sementara Nabi Yunus pergi, penduduk Ninawa bertaubat massal!
“Mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang segera beriman sehingga imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami berikan kesenangan hidup (sementara) kepada mereka sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Yunus: 98)
Ini adalah satu-satunya contoh dalam Al-Quran di mana seluruh penduduk sebuah kota beriman sekaligus dan diselamatkan dari azab.
Kota Niniwa menjadi contoh bahwa taubat yang tulus, bahkan di detik-detik terakhir, masih diterima Allah.
Hikmah dari Kisah Nabi Yunus untuk Kita
1. Tidak Boleh Putus Asa dari Rahmat Allah
Yunus berada di kondisi yang paling ekstrem di dalam perut ikan, di kedalaman laut, di malam hari. Tidak ada kondisi yang lebih gelap dari itu.
Namun Allah mendengar doanya. Ini membuktikan bahwa tidak ada kondisi yang terlalu buruk untuk berdoa kepada Allah.
2. Mengakui Kesalahan adalah Kunci Pengampunan
Doa Yunus dimulai dengan pengakuan: ‘Innii kuntu minazh zhaalimiin aku termasuk orang-orang yang zalim.’
Ia tidak mencari alasan, tidak menyalahkan orang lain. Ia langsung mengakui kesalahannya. Inilah kunci yang membuka pintu pengampunan Allah.
3. Dzikir adalah Penyelamat di Waktu Sempit
Al-Quran menyebutkan bahwa Yunus selamat karena ia ‘termasuk orang-orang yang banyak berdzikir.’
Kebiasaan berdzikir yang dibangun di waktu lapang itulah yang menyelamatkannya di waktu sempit. Ini pelajaran: bangun kebiasaan dzikir sekarang, sebelum kesempitan datang.
4. Taubat Massal Kota Niniwa: Tidak Ada yang Terlambat
Penduduk Niniwa bertaubat saat azab sudah sangat dekat dan Allah menerima taubat mereka.
Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Ini adalah salah satu pesan paling menguatkan dalam Al-Quran.
5. Tugas Dakwah Tidak Boleh Ditinggalkan Sebelum Selesai
Kesalahan Yunus adalah meninggalkan dakwahnya tanpa izin Allah karena frustrasi.
Ini pelajaran bagi siapa saja yang memiliki tugas atau amanah, jangan meninggalkan amanah hanya karena merasa sia-sia atau tidak dihargai. Hasilnya ada di tangan Allah.
Doa Yunus
Doa yang dipanjatkan Yunus di dalam perut ikan bukan hanya menyelamatkan beliau — ia menjadi warisan doa terbesar umat Islam sepanjang zaman. Para ulama sangat menganjurkan membaca doa ini ketika menghadapi kesulitan, kesempitan, atau saat merasa jauh dari Allah.
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin
“Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Baca berulang kali saat dalam kesempitan
Kesimpulan
Kisah Nabi Yunus adalah kisah tentang manusia bahkan seorang nabi yang bisa melakukan kesalahan, namun kebesaran Allah jauh melampaui setiap kesalahan yang ada. Yang diperlukan hanyalah ketulusan dalam bertaubat dan keyakinan bahwa Allah selalu mendengar dan mengampuni.
Jika Anda sedang berada dalam ‘perut ikan’ kehidupan Anda sendiri dalam kegelapan, tekanan, dan kesendirian yang terasa tak berujung ingatlah Nabi Yunus.
Serukan doa itu. Allah yang sama yang menyelamatkan Yunus dari tiga lapis kegelapan akan menyelamatkan Anda juga.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim dan Ujian Terberatnya | Kisah Nabi Yusuf | Doa Memohon Ampunan
Referensi: QS. Al-Anbiya: 87, QS. Ash-Shaffat: 139-148, QS. Yunus: 98, HR. Tirmidzi no. 3505, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5





