Di Antara Bentuk Pengamalan dari Keyakinan Terhadap Al-Baṣīr

Di Antara Bentuk Pengamalan dari Keyakinan Terhadap Al-Baṣīr

Allah memiliki nama 99 yang biasa kita sebut dengan Asmaul Husna salah satunya adalah Al-Basir.

Tapi apa sih arti dari Al-Bashir dan bagaimana bentuk pengamalan dari keyakinan terhadap Al-Basir?

Simak selengkapnya berikut ini.

Mengamalkan Asmaul Husna: Al-Baṣīr, Allah Maha Melihat

Sebagai seorang Muslim, mengenal dan meyakini Asmaul Husna bukan sekadar menghafal 99 nama Allah.

Lebih dari itu, setiap nama agung tersebut menyimpan makna yang dalam dan menjadi pedoman hidup bagi mereka yang ingin memperkuat iman dan takwa.

Salah satu nama yang sering kita dengar namun mungkin belum benar-benar kita resapi adalah Al-Baṣīr (ٱلْبَصِيرُ) yang punya arti Maha Melihat.

Lantas, apa makna sebenarnya dari Al-Baṣīr? Dan bagaimana seorang Muslim seharusnya mengamalkan keyakinan terhadap sifat ini dalam kehidupan sehari-hari?

Makna Al-Baṣīr: Allah Melihat Segalanya

Secara bahasa, “Al-Baṣīr” berasal dari kata بَصَرَ yang berarti penglihatan, melihat, menatap, memperhatikan, dan mengetahui.

Dalam konteks Asmaul Husna, Al-Baṣīr berarti Allah memiliki penglihatan yang sempurna dan tanpa batas bahkan sesuatu hal yang tersembunyi juga bisa nampak bagi Allah.

Allah melihat segala sesuatu, baik yang tampak maupun tersembunyi, baik yang besar maupun yang sekecil atom.

Penglihatan Allah tidak terikat oleh waktu dan ruang.

Bahkan sesuatu yang sangat kecil, yang mungkin luput dari pandangan manusia dan alat tercanggih sekalipun, tetap berada dalam pengawasan-Nya.

Keyakinan ini menanamkan kesadaran mendalam bahwa tidak ada satu pun yang luput dari pandangan Allah. Termasuk apa yang terlintas di dalam hati kita.

Bentuk Pengamalan dari Keyakinan Terhadap Al-Baṣīr

Mengimani bahwa Allah Maha Melihat semestinya tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan mendorong kita untuk mengubah cara berpikir, bersikap, dan berperilaku.

Berikut beberapa bentuk pengamalan yang dapat kita lakukan:

1. Menjaga Perilaku di Tempat Sepi

Seorang hamba yang yakin bahwa Allah melihatnya, tidak akan berani melakukan dosa, meskipun tidak ada satu pun manusia yang menyaksikan.

Misalnya:

  • Menjaga shalat walau sedang sendirian.
  • Tidak curang dalam ujian, walau tanpa pengawas.
  • Tidak membuka hal yang haram, meski dalam privasi perangkat sendiri.

2. Meluruskan Niat dalam Amal

Allah tidak hanya melihat amal perbuatan kita, tetapi juga niat di baliknya. Amal yang baik di mata manusia belum tentu diterima oleh Allah jika niatnya keliru.

Contohnya:

  • Menulis, berdakwah, bersedekah  bukan untuk pujian atau popularitas, tapi karena Allah.

3. Menghadirkan Rasa Ihsan

Dari Umar radiallahu anhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (HR. Muslim)

Ihsan adalah puncak dari keyakinan kepada Al-Baṣīr. Dengan merasakan pengawasan Allah setiap saat, kita akan beribadah dengan lebih khusyuk, berhati-hati dalam berkata dan bertindak.

4. Bersikap Adil dan Amanah

Allah Maha Melihat setiap keputusan kita, terutama ketika kita memegang kekuasaan atau amanah.

Maka:

  • Pimpinan harus berlaku adil.
  • Penguasa harus bijak dalam kebijakan.
  • Pejabat harus jujur dan tidak menyalahgunakan jabatan.

5. Menjaga Hati dan Pikiran

Karena Allah melihat isi hati kita, maka penting bagi kita untuk:

  • Menjaga dari prasangka buruk,
  • Menahan amarah,
  • Memurnikan niat,
  • Menyucikan hati dari hasad dan riya.

Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Al-Baṣīr

Al-Qur’an secara tegas menyebutkan sifat Allah yang Maha Melihat dalam banyak ayat. Di antaranya:

QS. Al-Hujurat: 18

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa segala yang kita kerjakan sekecil apa pun berada dalam pengawasan-Nya.

QS. Yunus: 61

“……….Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Ini menunjukkan bahwa setiap gerak-gerik kita, termasuk niat, bisikan, dan lintasan hati, semuanya berada dalam catatan-Nya.

QS. Asy-Syura: 27

Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran (tertentu). Sesungguhnya Dia Maha Teliti lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

Allah tidak hanya melihat perbuatan lahiriah, tetapi juga menilai kondisi batin, niat, dan kebutuhan hamba-Nya.

QS. An-Nisa: 58

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dalam konteks keadilan dan amanah, Allah menegaskan bahwa Dia melihat semua keputusan dan tindakan manusia terhadap sesamanya.

Menghidupkan Nama-Nya dalam Kehidupan

Meyakini bahwa Allah Maha Melihat seharusnya menjadi rem dan kontrol diri dalam setiap langkah kita. Keyakinan ini bukanlah beban, tapi penjaga diri agar kita tetap berada di jalan yang lurus.

  • Jika tak ada manusia yang tahu, Allah tetap tahu.
  • Jika semua orang tertipu, Allah tetap melihat yang sebenarnya.
  • Jika kita lelah menjaga diri, yakinlah bahwa Allah pun Maha Melihat perjuangan itu.

Maka mulai hari ini, mari kita hidupkan keyakinan kepada Al-Baṣīr dalam setiap aktivitas kita:

  • Dalam bekerja,
  • Dalam berinteraksi,
  • Dalam menyendiri,
  • Dalam beribadah,
  • Dan dalam menjaga hati.

Karena tidak ada ruang untuk sembunyi dari pengawasan Allah.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa menjaga diri karena sadar bahwa Allah Maha Melihat.

Aamiin.

Leave a Comment