Haji adalah rukun Islam kelima, kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap muslim yang mampu secara fisik dan finansial.
Haji lebih dari sekadar perjalanan wisata religi, haji adalah puncak pengabdian seorang hamba kepada Allah yaitu meninggalkan segala kemewahan dunia, mengenakan dua helai kain putih yang sama dengan jutaan manusia lain, dan berdiri di hadapan Allah dalam kesetaraan total.
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97)
Selain ayat diatas, Rasulullullah bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari yang artinya :
“Barangsiapa berhaji karena Allah, tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia pulang seperti pada hari ketika ibunya melahirkannya (bersih dari dosa).” (HR. Bukhari no. 1521)
Syarat Wajib Haji
Haji hanya wajib bagi yang memenuhi seluruh syarat berikut:
- Islam : haji tidak sah dari non-muslim
- Baligh (dewasa) : anak kecil boleh berhaji namun tidak menggugurkan kewajiban hajinya kelak
- Berakal : orang gila tidak wajib berhaji
- Merdeka : tidak dalam status budak (kondisi historis)
- Istitha’ah (mampu) : mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan
Rukun Haji
Rukun haji adalah landasan ibadah yang harus dipatuhi dan dilaksanakan secara berurutan. Adapun rukunnya sebagai berikut :
1. Ihram
Niat masuk ke dalam ibadah haji dengan berpakaian ihram. Kemudian di ikuti dengan pelaksanaan sholat sunnah 2 rakaat.
Untuk melafalkan miqat tidak boleh sembarangan, perlu memperhatikan waktu (Miqat Zamani) dan tempat pelafalannya (Miqat Makani).
Waktu pelafalan dilakukan pada bulan Syawal, bulan Dzulqaidah dan bulan Dzulhijjah.
Adapun pelafalannya adalah :
“Nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi taala”
Artinya:
“Aku berniat haji dengan berihram karena Allah Taala.”
Sedangkan untuk tempatnya dilaksanakan antara lain :
- Gelombang pertama dimulai dari Dzulhulaifah atau Bir Ali
- Gelombang kedua melaksanakan miqat saat berada di pesawat yang sedang terbang di sepanjang garis sejajar Qarnul Manazil atau yang dikenal dengan Bandara King Abdul Azis Jeddah
2. Wukuf di Arafah
Hadir di padang Arafah pada 9 Dzulhijjah kemudian berdiam diri di padang tanah Arafah hingga waktu subuh di tanggal 10 Dzulhijjah.
Wukuf di Arafah adalah rukun terpenting. Nabi ﷺ bersabda: ‘Haji adalah Arafah.’ (HR. Abu Dawud, shahih). Siapa pun yang tidak hadir di Arafah pada waktunya, hajinya batal.
3. Tawaf
Setelah melakukan wukuf di Arafah, jamaah haji melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Tawaf Ifadhah yaitu mengelilingi Kabah 7 kali.
Selama wukuf, para jemaah dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, tahlil, istighfar, shalawat, membaca Aquran, dan berdoa.
4. Sa’i
Rukun ke empat adalah Sa’i yaitu berlari-lari kecil 7 kali antara bukit Shafa dan Marwa.
5. Tahalul
Rukun ke lima adalah Tahalul yaitu mencukur/memotong rambut sebagai tanda keluar dari ihram. Umumnya tahallul dilakukan minimal setelah lewat dari tanggal 10 Dzulhijjah.
6. Tertib
Rukun haji terakhir adalah Tertib yaitu melaksanakan rukun diatas secara berurutan.
Wajib Haji — Bisa Diganti dengan Dam Jika Ditinggalkan
Wajib haji adalah amalan yang harus dikerjakan. Jika ditinggalkan karena udzur (alasan syar’i), hajinya tetap sah namun wajib membayar dam (denda berupa menyembelih hewan). Ada 7 wajib haji:
- Ihram dari miqat — mengambil ihram dari batas wilayah yang telah ditentukan
- Mabit (bermalam) di Muzdalifah — pada malam 10 Dzulhijjah setelah dari Arafah
- Mabit di Mina — pada hari Tasyriq (11, 12, dan/atau 13 Dzulhijjah)
- Melempar Jumroh Aqabah — pada 10 Dzulhijjah (Idul Adha)
- Melempar 3 Jumroh — pada hari-hari Tasyriq
- Tahallul (cukur rambut) — dilaksanakan di Mina
- Tawaf Wada’ — tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makk
Urutan Pelaksanaan Haji
8 Dzulhijjah — Hari Tarwiyah
Jamaah mengenakan pakaian ihram dan berangkat dari Makkah menuju Mina.
Di Mina, jamaah melaksanakan sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh dengan cara dijamak dan diqashar (bagi yang bermadzhab membolehkannya).
Malam ini diisi dengan dzikir, doa, dan membaca Al-Quran.
9 Dzulhijjah (Hari Arafah atau Puncak Haji)
Ini adalah hari paling agung dalam ibadah haji dan dalam setahun. Setelah sholat Subuh di Mina, jamaah bergerak menuju Arafah.
Wukuf dimulai setelah matahari tergelincir (masuk waktu Dzuhur) dan berlangsung hingga matahari terbenam.
Setelah matahari terbenam, jamaah bergerak menuju Muzdalifah.
Di sini sholat Maghrib dan Isya dijamak dan diqashar.
Jamaah bermalam di sini dan mengambil batu kerikil untuk lempar Jumroh.
10 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha)
Empat amalan utama dilaksanakan pada hari ini boleh dilakukan secara berurutan atau disesuaikan kondisi:
- Lempar Jumroh Aqabah di mina dengan 7 batu kerikil, masing-masing dilempar sambil bertakbir
- Menyembelih hewan hadyu (kurban haji) bagi jamaah haji Tamattu’ atau Qiran.
- Tahallul awal yaitu mencukur/memotong minimal 3 helai rambut, setelah ini boleh berpakaian biasa kecuali hubungan suami istri
- Tawaf Ifadhah + Sa’i
11–13 Dzulhijjah — Hari Tasyriq
Jamaah kembali ke Mina dan bermalam.
Setiap hari (11, 12, 13) melempar 3 Jumroh: Ula, Wustha, dan Aqabah masing-masing 7 batu.
Jamaah yang melakukan nafar awal boleh meninggalkan Mina pada 12 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.
Tawaf Wada’ (Perpisahan dengan Kabah)
Sebelum meninggalkan Makkah, setiap jamaah wajib melaksanakan Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan) mengelilingi Kabah 7 kali sebagai perpisahan.
Ini adalah wajib haji, bukan rukun, sehingga jika ditinggalkan karena udzur wajib membayar dam.
Larangan Selama Ihram
Selama dalam kondisi ihram (dari niat ihram hingga tahallul), ada larangan yang tidak boleh dilanggar:
| Larangan | Berlaku Untuk |
| Memotong rambut dan kuku | Laki-laki dan perempuan |
| Memakai wewangian/parfum | Laki-laki dan perempuan |
| Membunuh atau memburu hewan darat | Laki-laki dan perempuan |
| Akad nikah | Laki-laki dan perempuan |
| Hubungan suami istri | Laki-laki dan perempuan |
| Memakai pakaian berjahit | Khusus laki-laki |
| Menutup kepala dengan sesuatu yang menempel | Khusus laki-laki |
| Menutup wajah dengan cadar/niqab | Khusus perempuan |
Doa Talbiyah (Bacaan Inti Jamaah Haji)
Talbiyah dibaca dengan suara keras (bagi laki-laki) sejak ihram hingga mulai melempar Jumroh Aqabah pada 10 Dzulhijjah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
Labbayk Allaahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Kesimpulan
Ibadah haji adalah perjalanan jiwa yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Setiap titik di tanah suci menyimpan sejarah keimanan ribuan tahun.
Jika Anda belum mampu berhaji, mulailah menabung dari sekarang dan perbanyak doa agar Allah memanggil Anda ke Baitullah.
Karena haji bukan hanya soal kemampuan finansial ia adalah undangan dari Allah kepada hamba-Nya yang dipilih.
Doa agar dipanggil ke Tanah Suci: Allahumma baarik lanaa fii safarina hadzaa wathwi ‘annal bu’da Ya Allah, berkahilah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jarak yang jauh.
🔗 Baca juga: Sejarah Ibadah Haji | Niat Puasa Arafah | Tata Cara Penyembelihan Kurban | Doa Wukuf di Arafah
Referensi: QS. Ali Imran: 97, HR. Bukhari no. 1521, HR. Abu Dawud no. 1949, Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq, Al-Mughni Ibnu Qudamah





