Hutang tidak secara otomatis mempersempit rezeki Namun, hutang yang berlebihan, tidak terkontrol, dan digunakan tanpa perhitungan bisa membuat kondisi keuangan terasa semakin sempit.
Dalam islam, mengacu pada hadist dari Rasulullah menjelaskan :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ، حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
Artinya :
“Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda: “Ruh orang beriman menggantung sebab hutangnya hingga dilunasi.”‘” (HR. Tirmidzi).
Dari hadis diatas sangat jelas jika seseorang masih punya hutang wajib untuk mengembalikan apapun yang terjadi. Bahkan ketika meninggal dunia tetap harus dikembalikan melalui ahli warisnya.
Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang hutang?
Hutang dalam Islam Tidak Dilarang, tetapi Tidak Boleh Diremehkan
Islam tidak melarang seseorang berhutang. Dalam kondisi tertentu, hutang bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan.
Namun, hutang tetap merupakan kewajiban yang harus dibayar.
Lalu hubungannya dengan rezeki bagaimana?
Sebenarnya menurut para ulama hutang tidak otomatis menjadi penghalang rezeki karena semua tergantung pada niat awal ketika meminjam.
Melansir dari laman jabar.nu.or.id dalam hadis dijelaskan :
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan niat ingin mengembalikannya, maka Allah akan melunasi utang tersebut atas namanya. Barangsiapa yang mengambilnya (berutang) dengan niat untuk merusaknya (tidak mau bayar), maka Allah akan merusak orang tersebut.” (HR. Bukhari, No. 2387).
Masih dari sumber yang kami temukan, menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan jika :
“Perkataan Rasulullah SAW yang berbunyi: ‘Allah akan merusak orang tersebut’, makna lahiriahnya menunjukkan bahwa kehancuran/kerusakan tersebut akan menimpa dirinya di dunia; yaitu kerusakan pada sumber penghidupannya (mata pencaharian/rezeki) atau kerusakan pada dirinya sendiri (jiwa/fisik/kesehatan).” (Fathul Bari, [Mesir, Maktabah As-Salafiyyah: 1390 H], jilid V, hal. 54).
Dari penjelasan diatas, sangat jelas jika hutang dapat menjadi dampak ketidaklancaran rezeki jika niat awal dari penghutang sudah buruk.
Kapan Hutang Bisa Membuat Keuangan Terasa Sempit?
Selain niat, ada beberapa alasan lain kenapa utang bisa membuat keuangan terasa sempit diantaranya :
1. Ketika Cicilan Menghabiskan Penghasilan
Semakin besar cicilan, semakin sedikit uang yang tersisa untuk kebutuhan sehari-hari.
Inilah salah satu alasan mengapa hutang bisa membuat hidup terasa sempit secara finansial.
2. Ketika Hutang Digunakan untuk Gaya Hidup
Tidak semua hutang digunakan untuk kebutuhan mendesak. Kadang seseorang berhutang untuk membeli sesuatu yang sebenarnya belum mampu dibeli.
Untuk itu, hindari hutang untuk gaya hidup, tapi gunakan saat sedang punya kendala untuk keberlanjutan kehidupan.
3. Ketika Berhutang Tanpa Niat dan Rencana Melunasi
Hutang seharusnya tidak dianggap sebagai uang gratis. Seorang Muslim harus memiliki kesungguhan untuk melunasinya.
Selain menjadi kewajiban, hutang adalah kewajiban yang harus dilunasi, bahkan Rasulullah SAW bersabda :
“Menunda-nunda membayar utang bagi orang yang mampu (membayar) adalah kezaliman” (HR. Bukhari).
Apa yang Harus Dilakukan Jika Memiliki Hutang?
Jika saat ini memiliki hutang, jangan hanya merasa takut atau menyesal. Hadapi masalahnya secara bertahap.
1. Catat Semua Hutang
Ketahui jumlah total hutang, cicilan, dan jatuh temponya.
Jangan menghindari angka. Masalah akan lebih mudah diselesaikan ketika kita mengetahui kondisi sebenarnya.
2. Dahulukan Pembayaran Kewajiban
Evaluasi kembali pengeluaran bulanan.
Kurangi pengeluaran yang tidak penting dan fokus pada kebutuhan serta kewajiban yang harus diselesaikan.
3. Hindari Menambah Hutang Tanpa Kebutuhan Penting
Sebelum mengambil pinjaman baru, selalu cek dan tanyakan diri sendiri apakah itu penting untuk menambah atau hanya untuk gaya hidup.
4. Cari Tambahan Rezeki yang Halal
Jika memungkinkan, cari sumber penghasilan tambahan sesuai kemampuan.
Mulai dari pekerjaan sampingan, menjual keahlian, atau usaha kecil.
5. Berdoa dan Memohon Pertolongan Allah
Selain ikhtiar, seorang Muslim juga dianjurkan untuk berdoa kepada Allah.
Namun, doa harus berjalan bersama tanggung jawab.
Dampak Tidak Membayar Utang
Selain dari hadis yang sudah kami jelaskan diatas, ada beberapa dampak jika kita punya hutang tapi tidak ingin mengembalikannya :
1. Rezeki Jadi Sempit dan Tidak Berkah
Seperti yang sudah kami jelaskan diatas, jika salah satu hal yang bisa mempengaruhi rezeki adalah niat saat ingin berhutang.
2. Memiliki Sifat Munafik
Hutang adalah amanah yang harus diperhatikan dan wajib dibayar, jika seseorang tidak melunasinya maka kepercayaan dari orang lain akan hilang dan tergolong orang munafik.
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dampak Di Akhirat
Dampak terakhir bukan hanya didunia, tapi juga diakhirat kelak. Karena jika seseorang tidak membayar maka ruh seorang mukmin akan tertahan seperti hadits yang riwayat Tirmidzi yang sudah kami jelaskan diatas.
Kesimpulan
Apakah hutang bisa mempersempit rezeki? Hutang tidak otomatis mempersempit rezeki dari Allah.
Namun, hutang yang berlebihan dan tidak dikelola dengan baik dapat membuat keuangan terasa sempit karena sebagian penghasilan digunakan untuk membayar kewajiban.
Jika memiliki hutang, jangan menghindarinya. Catat, atur keuangan, kurangi pengeluaran yang tidak perlu, tingkatkan ikhtiar mencari rezeki halal, dan berusaha melunasinya secara bertahap.
Karena rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita dapatkan, tetapi juga tentang bagaimana kita mengelolanya dengan penuh tanggung jawab.





